Tasikmalaya, 7 Januari 2016 23.38 WIB Tulisan ini dibuat dibawah langit malam yang sunyi temaram di kampung halaman. Bisa jadi sebagai bentuk syukur karena hari ini telah diberi kesempatan untuk kembali berkumpul dengan beberapa teman sekaligus sahabat karib yang beberapa waktu lalu sempat dipisahkan jarak karena masing-masing sibuk mengejar impian masa kecil yang disebut ‘cita-cita’. Banyak memori yang begitu saja dihadirkan kembali hanya lewat percakapan dan gurauan singkat antara kami. Tidak ada samasekali rasa canggung yang timbul ke permukaan meski kami sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama. “Sahabat ialah dirimu yang kedua, sementara teman ialah mereka yang menemani agar kau tak sendiri” –Pidibaiq Benar. Hal ini membawa ingatanku kembali pada masa ketika aku masih duduk di kelas 1 SMP, beruntung rasanya aku dipertemukan takdir dengan mereka yang tidak hanya membuatku nyaman berteman tetapi juga terpacu untuk berkembang. Kami yang sempat diintimidasi dengan pandan...
Influence Peoples Through Literature